Umat Islam dalam melaksanakan ibadah puasa atau ibadah-ibadah lainnya, sangat tergantung dari pengetahuan yang dimiliki serta pemahaman dan penghayatan dan tentu saja termasuk penerapannya atau pengamalannya. Semakin banyak pengetahuan kita tentang sesuatu, ditambah dengan penghayatan yang lebih dalam tentu akan semakin baik dan sempurna pelaksanaan dari puasa atau ibadah itu. berbicara tentang
puasa, ada di antara kita yang berpuasa hanya sekedar menahan diri dari makan minum dan campur dengan isteri atau apa saja yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari yang diawali dengan niat di waktu malam sebelum terbitnya fajar tapi mulutnya belum puasa, ngomel terus, marah terus, ghibah terus, menggunjing terus bahkan berbohong dan memfitnah orang, menyakiti tetangga, teman dan lain-lain, demikian pula matanya belum bisa puasa. masih senang melihat yang diharamkan agama untuk melihatnya, demikian pula tangan, kaki, dan lain-lain belum dapat dikendalikan. puasa seperti ini oleh ulama' disebut saumul awam (puasa orang kebanyakan) dan ini merupakan tingkatan orang puasa paling rendah. Bahkan, oleh Rasulullah SAW telah mengingatkan kita, puasa seperti itu tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan haus. Na'udzubillah
Kita telah memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah SWT, semoga kita diberikan kekuatan oleh-Nya untuk dapat menjauhkan diri dari hal-hal yang akan merusak pahala kita di akhirat kelak. Ya Allah betapa ruginya kami apabila hal itu terjadi dan betapa sia-sianya perbuatan kami.
Sedangkan sebagaian umat, dalam melaksanakan ibadah puasanya di samping menjaga dirinya dari hal-hal yang dapat merusak dan membatalkan pahala puasanya, juga lebih dari itu ia jaga mulutnya untuk mengeluarkan kata-kata kotor, berkata bohong, menyinggung perasaan orang lain, sumpah palsu, marah-marah dan lain-lain yang dilarang agama. Demikian pula ia menjaga matanya untuk melihat apa saja yang diharamkan, juga menjaga telinganya untuk medengar hal-hal yang diharamkan serta memlihara kaki dan tangannya untuk berjalan menuju tempat maksiat yang diharamkan dan melakukan hal-hal yang haram dan dibenci Allah SWT. Bahkan, justru seluruh badan, panca inderanya untuk amal-amal shaleh atau bermacam-macam ibadah, amka puasa yang dilakukan seperti itulah yang disebut saumul khasshash (puasa orang-orang khusus) dan jelas ini lebih tinggi dari tingkat puasa orang kebanyakan (saumul awam). Dan kearah inilah puasa yang kita lakukan tiap tahun, hendaknya dilakukan hendaknya dilakukan sehingga puasa satu bulan penuh setiap tahun itu benar benar melahirkan orang-orang yang taqwa (muttaqin). Dan inilah hikmha terbesar dari tujuan disyari'atkannya berpuasa seperti yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 183 yang artinya :
"wahai orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa".
Sungguh luar biasa, nilai yang dikejar dengan berpuasa itu yaitu menjadi orang yang bertaqwa; yaitu orang-orang yang senantiasa taat kepada perintah Allah SWT dan dapat mencegah diri dari semua larangan-Nya. Nilai mulia ini membuat pribadi muslim menjadi utuh dan terhormat bahkan menjadi mulai di hadapan Allah SWT. Bila orang telah menjadi mulai di hadapan Allah SWT dengan predikat taqwanya, maka predikat jabatan apalagi yang lebih baik, lebih bergengsi dari kemuliaan tersebut ?
Dan adalagi tingkatan ketiga yang lebih spesifik lagi, yaitu oleh para ulama disebut dengan saumul khawashil khawash. Tingkat ini jangankan melakukan hal-hal yang dilarang dalam puasa, baik oleh mulut, mata, telinga, kaki dan tangan atau yang lainnnya, tersiratpun dalam hatinya tak terlintas. hatinya penuh dengan dzikir kepada Allah. Semua anggota badannya telah berdzikir.
kenikmatan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah telah dirasakannya,dinikmatinya secara lahir dan batin, dengan hati, ucapan dan perbuatan.
puasa, ada di antara kita yang berpuasa hanya sekedar menahan diri dari makan minum dan campur dengan isteri atau apa saja yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari yang diawali dengan niat di waktu malam sebelum terbitnya fajar tapi mulutnya belum puasa, ngomel terus, marah terus, ghibah terus, menggunjing terus bahkan berbohong dan memfitnah orang, menyakiti tetangga, teman dan lain-lain, demikian pula matanya belum bisa puasa. masih senang melihat yang diharamkan agama untuk melihatnya, demikian pula tangan, kaki, dan lain-lain belum dapat dikendalikan. puasa seperti ini oleh ulama' disebut saumul awam (puasa orang kebanyakan) dan ini merupakan tingkatan orang puasa paling rendah. Bahkan, oleh Rasulullah SAW telah mengingatkan kita, puasa seperti itu tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan haus. Na'udzubillah
Kita telah memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah SWT, semoga kita diberikan kekuatan oleh-Nya untuk dapat menjauhkan diri dari hal-hal yang akan merusak pahala kita di akhirat kelak. Ya Allah betapa ruginya kami apabila hal itu terjadi dan betapa sia-sianya perbuatan kami.
Sedangkan sebagaian umat, dalam melaksanakan ibadah puasanya di samping menjaga dirinya dari hal-hal yang dapat merusak dan membatalkan pahala puasanya, juga lebih dari itu ia jaga mulutnya untuk mengeluarkan kata-kata kotor, berkata bohong, menyinggung perasaan orang lain, sumpah palsu, marah-marah dan lain-lain yang dilarang agama. Demikian pula ia menjaga matanya untuk melihat apa saja yang diharamkan, juga menjaga telinganya untuk medengar hal-hal yang diharamkan serta memlihara kaki dan tangannya untuk berjalan menuju tempat maksiat yang diharamkan dan melakukan hal-hal yang haram dan dibenci Allah SWT. Bahkan, justru seluruh badan, panca inderanya untuk amal-amal shaleh atau bermacam-macam ibadah, amka puasa yang dilakukan seperti itulah yang disebut saumul khasshash (puasa orang-orang khusus) dan jelas ini lebih tinggi dari tingkat puasa orang kebanyakan (saumul awam). Dan kearah inilah puasa yang kita lakukan tiap tahun, hendaknya dilakukan hendaknya dilakukan sehingga puasa satu bulan penuh setiap tahun itu benar benar melahirkan orang-orang yang taqwa (muttaqin). Dan inilah hikmha terbesar dari tujuan disyari'atkannya berpuasa seperti yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 183 yang artinya :
"wahai orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa".
Sungguh luar biasa, nilai yang dikejar dengan berpuasa itu yaitu menjadi orang yang bertaqwa; yaitu orang-orang yang senantiasa taat kepada perintah Allah SWT dan dapat mencegah diri dari semua larangan-Nya. Nilai mulia ini membuat pribadi muslim menjadi utuh dan terhormat bahkan menjadi mulai di hadapan Allah SWT. Bila orang telah menjadi mulai di hadapan Allah SWT dengan predikat taqwanya, maka predikat jabatan apalagi yang lebih baik, lebih bergengsi dari kemuliaan tersebut ?
Dan adalagi tingkatan ketiga yang lebih spesifik lagi, yaitu oleh para ulama disebut dengan saumul khawashil khawash. Tingkat ini jangankan melakukan hal-hal yang dilarang dalam puasa, baik oleh mulut, mata, telinga, kaki dan tangan atau yang lainnnya, tersiratpun dalam hatinya tak terlintas. hatinya penuh dengan dzikir kepada Allah. Semua anggota badannya telah berdzikir.
kenikmatan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah telah dirasakannya,dinikmatinya secara lahir dan batin, dengan hati, ucapan dan perbuatan.


0 komentar:
Posting Komentar